Ia menunjuk name-tag di dada saya dan berkata, “Ivon. “Kangkangin dong, aku pengen lihat lebih jauh!” katanya lagi. Bokep Wanita mafia pula! Rasa cinta dan kagum bercampur dengan haru dan terimakasih berkecamuk di dada saya. Sudah tidak ada lagi rasa takut, malu, atau risih di hadapannya, malah saya merasa tidak sabar menanti permainan berikutnya. Mungkinkah ia telah mencapai cita-citanya? Pikir saya. “Tapi aku juga ngerti, kamu nggak mungkin bisa hidup bareng aku.” lanjutnya lagi. Saya terdiam, dan tanpa sadar air mata mengalir di pipi saya.“Aku tahu apa yang ada di hati kamu, Von.” ujar Jenny membaca situasi. Celana dalam yang dipakainya pun hitam transparan menunjukkan rambut-rambut halus di selangkangannya. “Kenapa, Jen?” tanya saya ragu.“Aghh..” saya terhenyak sedikit ketika ia mencolek kemaluan saya.




















