Tidak berapa lama spermaku pun tumpah. Dan kalau sudah begitu, wah jadi pasar malam. Bokepindo Dan aku berusaha untuk melupakannya.Setelah aku pindah dari rumahku yang sebelumnya, Kakak laki-laki dari ibuku, Paman Denny (maaf, nama samaran) ikut tinggal di rumahku. “Kamu sendiri gimana? “Nggak apa-apa, nggak sakit koq” katanya sambil mulai mengocok penisku. Aku berjuang untuk tidak memikirkannya lagi.Aku pijat badannya mulai dari punggung. Kulihat dia juga tidak bisa tidur. Kebencian maupun rasa kehilangan jadi satu. Kami selalu melakukan hal itu saat tidak ada orang di rumah. Santo, seorang pria sejati sekarang. Saat itu aku merasa dipermainkan.Pamanku sendiri mengajari aku suatu perbuatan yang sesungguhnya ingin aku lupakan. Saat itu aku tak mau kalah. Dia hanya tersenyum padaku dan melirik penisku yang nampak menonjol dari celana pendekku. Berisik, dan tak bisa tidur.




















