Sepanjang jalan, aku gandeng tangannya. Bokepindo Aku hanya tersenyum dalam hati. Kalaupun tidak bertemu, kami tetap berkominikasi lewat telepon. Tapi sekali lagi, aku memang pengecut. Sesekali bibir Tia mengecup keningku dengan hangat dan tangannya membelai lembut setiap helai rambutku. Dilain pihak, aku juga menyayangi Evi. Tiapun tidak mau kehilangan moment, selama perjalanan pulang, Tia mendekap erat tubuhku dan menempelkan dagunya dipundakku sambil sesekali mengkomentari indahnya pemandangan sepanjang perjalanan.Sambil mencuri-curi kesempatan,Bibirnya pun tak henti-hentinya merayu dan menciumi pipiku seolah tidak meghiraukan Evi yang terbakar api cemburu. Ya Tuhan … begitu naifnya hamba Mu ini.Pagi itu Tia mengajakku berenang, tp aku menolak karena aku memang tidak bisa berenang. Ntar dicoba yah” Mulai pasang aksi lagi nih, pikirku. Akhirnya Evi menghampiriku sambil membawakan secangkir kopi hangat.




















