Masih ada esok. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Bokep hijab Lho, salon kan tempat umum. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Pijitan turun ke perut. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Ah bodoh. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Tidak perlu diantar. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Hawin menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Mbak Hawin sudah turun. Sial. Aku masih mematung. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot.




















