Mbak Lia tersenyum sambil menatap mataku. Bokep hijab Di situlah keberuntunganku. Nafasnya mengebu. Aku menengadah. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan. Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.“Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Mbak Lia ke atas lututku.Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Tunjukkan dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama dan yang terakhir bagimu!”Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Telapaknya menginjak kursi. Hisap Jhony!”Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Lia dapat terdengar dari luar ruang kerjanya. Di paha bagian belakang mulus tanpa bulu. Aku merasa benar-benar haus dan ingin segera




















