Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. engga apa-apa”“Syukurlah”“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bokepindohijab Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.“Apalagi .”“Engga kok . Putingnya juga istimewa. memang .. Mata yang mengundang !“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Mendadak aku merasa bersalah.“Curiga ya dia”“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.“Suamimu tahu kamu ke sini”“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.“Terima




















