Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Pipit.“Kamu gila Pit.. Bokep indo hijab Kok kita pegang-pegangan sih..” Pipit setengah berbisik. Ingin rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil ibunya sudah datang kembali.Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Merasa ada perimbangan, aku tak canggung-canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.“Pit.., namamu Pipit. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Bu Murni namanya. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Murni sambil berlari kecil ke arahku..“Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit mau ikut sampai terminal bis.










