Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Bokepindohijab Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekedar untuk dapat tempat duduk.Makasih ujarnya ringan.Aq sebetulnya ingin ada sesuatu yg bisa diomongkan lagi, sehingga tdk perlu curicuri pandang melirik lehernya, dadanya yg terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.Saya juga tdk suka angin kencangkencang. Bodoh, bodoh, bodoh. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.Yg ini atau yg itu..? Aq perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Keberuntungankah? Wajahku merah padam. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yg kali ini karena mendung tdk lagi ada keringat di lehernya. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Lalu ia memijat lutut. Aq membayangkan dapat menjepitnya di sini. Langkahku semangat lagi.




















