Dan aku mulai meracau…
“Jangan !”, kak Dewi menahan tubuhku. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu. Bokep “Janji ?!”, kak Dewi menatapku dalam-dalam. Rupanya sudah siang. Tanpa busana sehelaipun !!! Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Meskipun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? “Ya enak aja. Kalau kak Dewi melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Aku ingin memasukannya. Paha kak Dewi bergerak seolah memberi ruang agar tubuhku bergerak lebih leluasa. Ia mestinya memang sudah berumah tangga. “Maafin Tedy ya kak !”,
“Iya anak nakal !”, katanya.




















