“Urrrhhhhh…. Bokepindo “ aku menyapa seorang tukang becak langgananku yang ngetem di seberang rumahku. Fuuhhhhhh…., Fuuuuuuhhhh… Haaaaaahhhhhh… Fuuuuuuhhhh. “Ohhhh…. “ aku masuk ke dalam kamarku, kemudian kembali keluar dan memberikan selembar kain handuk kecil kepada mang Sudin. HEUU.. “Mmmpphhh… Jrebbbb.. “Aoohhh ampunnnn aaaaaaaa…., Blukkkkk Crrr Crrrrrr….. “Ennggg Mampus Aaaaaaa, Affffhhhh, Mangg…,!! Untuk sesaat mang Sudin beristirahat di atas tubuhku. Ya hanya sebuah senyuman, sebuah senyuman dari kekasihku, sebuah senyuman yang selalu memberiku hari-hari yang bahagia, sebuah senyuman yang selalu memberiku kekuatan, sebuah senyuman yang membuatku menjadi lebih hidup.“Anita…..” ia berteriak menyebut namaku kemudian berlari kecil menghampiriku
Ia berlari bagaikan seorang anak kecil yang polos, tangannya yang kekar memeluk kedua bahuku, tatapanku dan tatapan matanya bertemu, saling menatap dengan mesra, tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya namun sinar matanya telah mengatakan seribu kata-kata




















