Keberuntungankah? Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Bokep Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Sekali. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Ia tersenyum. Masih ada esok. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Ah segar. Wajahku merah padam. Hap. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Lalu asyik membuka tabloid. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi.




















