Satu hal lagi yang kudambakan, ketika bangun pagi Alia ada di sampingku sehingga kami bisa menikmati seks pagi hari yang menyegarkan. Sekali kecupan lalu kulepas lagi. Bokepindohijab sakit. Masih menunduk. Betapa polosnya dia. Bahkan ketika tanganku berhasil mencapai kain celana dalam di pinggir pinggulnya. Kulumat lagi. Ngobrol, berbelanja, berkiriman dokumen, cari informasi apapun, semuanya dapat dilakukan tanpa beranjak dari rumah. Alia begitu bersemangat cerita tentang kegiatannya selama praktek kerja lapangan di instansi pemerintah itu. Barulah matanya menatapku. Dan jauh dari rumah, supaya lebih aman.———-Obrolan kami makin seru setelah masa “ice-breaking” tak lama dilalui. “Emang bisa nginap di rumah elo?” katanya setelah beberapa saat hening. Waktu putingnya kuhisap-hisap, Alia mendesis.




















